Panduan Merawat Dormouse di Rumah sebagai Hewan Peliharaan Eksotis

Dormouse (keluarga Gliridae) adalah mamalia kecil nocturnal yang terkenal sangat menggemaskan berkat mata besar hitam mengilap, telinga bundar, bulu halus keemasan hingga abu-abu, serta ekor panjang berbulu lebat.

hewan dormouse atau dormice
Gambar Hewan Dormouse

Di seluruh dunia terdapat sekitar 29 spesies, namun yang paling sering dipelihara sebagai hewan eksotis adalah African dormouse (Graphiurus murinus dan Graphiurus kelleni) karena ukurannya kecil (ukuran tubuh 7–12 cm + ekor 6–11 cm), sifatnya relatif jinak, dan tidak memerlukan hibernasi panjang seperti spesies Eropa atau Jepang.

Bagi pemula yang sudah memiliki izin resmi, satu-satunya pilihan yang realistis dan paling aman adalah African dormouse (Graphiurus murinus atau Graphiurus kelleni). Hewan ini berukuran kecil (panjang tubuh 7–12 cm + ekor 6–10 cm, berat dewasa 18–35 gram), memiliki sifat relatif jinak, mudah beradaptasi dengan manusia, dan yang terpenting tidak memerlukan hibernasi panjang seperti spesies dari wilayah subtropis. African dormouse hanya mengalami torpor ringan (tidur pendek beberapa jam hingga maksimal 1–2 hari) bila suhu turun, sehingga risiko kematian akibat kesalahan pengaturan hibernasi hampir nol. Warna bulu abu-abu keemasan dengan garis mata hitam khas membuatnya tetap sangat menggemaskan dan fotogenik. Adapun spesies lainnya seperti:

  1. Japanese dormouse (Glirulus japonicus) memang tampak paling lucu karena wajah bulat dan bulu oranye-krem yang lembut, tetapi sangat tidak direkomendasikan bagi pemula. Spesies ini wajib menjalani hibernasi penuh 5–7 bulan pada suhu 3–8 °C; jika gagal disimulasikan dengan benar, hewan akan mati karena kehabisan cadangan lemak. Selain itu, Japanese dormouse pemalu ekstrem dan mudah stres hingga bunuh diri dengan membenturkan kepala ke dinding kandang.
  2. Fat dormouse atau edible dormouse (Glis glis) sama sekali tidak cocok sebagai hewan peliharaan. Ukurannya besar (ukuran tubuh 13–20 cm + ekor 11–15 cm, berat pra-hibernasi bisa mencapai 150–200 gram), bersifat agresif (bisa menggigit hingga berdarah), sangat berisik di malam hari, dan memiliki bau badan kuat. Di Eropa sendiri spesies ini dilindungi ketat dan hanya boleh ditangani oleh lembaga konservasi berlisensi.

Kesimpulan: Jika kalian benar-benar ingin memelihara dormouse secara legal dan bertanggung jawab, pilihlah African dormouse (Graphiurus spp.) saja. Spesies lain terlalu berisiko tinggi bagi pemula maupun bagi kelangsungan hidup hewan itu sendiri.

1. Status Hukum di Indonesia & Dunia

Meskipun terlihat lucu, dormouse tetap satwa liar yang dilindungi atau diatur ketat oleh CITES Appendix III dan peraturan nasional hampir di semua negara, termasuk Indonesia. Memelihara, membeli, atau menjual dormouse tanpa izin resmi BKSDA/KLHK merupakan pelanggaran hukum yang dapat dikenai sanksi pidana dan denda jutaan rupiah. Oleh karena itu, panduan ini hanya ditujukan untuk tujuan edukasi atau bagi kalian yang sudah memiliki izin penangkaran/rehabilitasi resmi. Beberapa peraturan yang secara khusus atau tidak langsung mengatur perlindungan dormouse adalah sebagai berikut:

  • African dormouse (Graphiurus spp.) → CITES Appendix III (perdagangan diatur).
  • Edible dormouse (Glis glis) & hazel dormouse → dilindungi penuh di Eropa.
  • Japanese dormouse → dilindungi di Jepang. Di Indonesia, semua jenis dormouse bukan satwa asli sehingga hanya boleh dipelihara dengan izin BKSDA/KLHK.

2. Pengaturan Kandang Ideal

Kandang ideal untuk 1–2 ekor African dormouse minimal berukuran 100 cm × 50 cm × 100 cm (lebih besar jauh lebih baik) dan harus bertingkat karena dormouse bersifat arboreal (hidup dan bergerak di atas pohon). Gunakan rangka stainless steel atau kayu yang dilapisi kawat ram berlubang 1 × 1 cm agar aman dari gigitan. Lengkapi dengan banyak cabang alami horizontal (pohon apel, mangga, atau rambutan yang sudah dikeringkan oven), tali rami tebal untuk memanjat, roda lari full-face (tanpa jeruji) diameter 30 cm, serta minimal dua sarang tertutup di bagian atas kandang (bisa kotak kayu dengan lubang masuk 4–5 cm atau sarang bola anyaman rumput laut/tempurung kelapa). Suhu ruangan dijaga stabil 22–28 °C dengan kelembapan 50–70 %; hindari sinar matahari langsung dan letakkan kandang di ruangan paling tenang di rumah.

Kesimpulan fasilitas yang wajib dipenuhi:

  • Banyak cabang horizontal & tali rami untuk memanjat.
  • Sarang tertutup (kotak kayu, tempurung kelapa, atau sarang anyaman) diletakkan di bagian paling atas.
  • Roda lari full-face diameter ≥ 28–30 cm (tanpa jeruji).
  • Tempat minum nipple bottle + tempat pakan anti tumpah.
  • Substrat: serbuk kayu aspen + daun kering (kelembapan 50–70 %).
  • Suhu ruangan 22–28 °C (jangan sampai di bawah 18 °C).

3. Pola Makan yang Seimbang

Pakan harian harus meniru pola makan alami: 50–60 % serangga hidup (jangkrik pinhead hingga dewasa kecil, ulat hongkong, mealworm, dubia roach, atau lalat tentara hitam), 30–40 % buah segar yang dipotong kecil (apel, pir, anggur, pepaya, mangga, blackberry, raspberry), serta 10 % kacang dan biji-bijian (hazelnut utuh, biji bunga matahari tanpa kulit, walnut, pine nut) ditambah sedikit bee pollen dan nektar bunga/madu encer.

hewan dormouse atau dormice sedang makan
Gambar Dormouse sedang menikmati makanannya

Berikan suplemen kalsium karbonat + vitamin D3 reptil 2–3 kali seminggu untuk mencegah penyakit tulang metabolik. Jangan pernah memberikan pakan hamster, roti, keju, cokelat, alpukat, atau makanan manusia yang tinggi gula dan garam karena dapat menyebabkan diabetes, fatty liver, hingga kematian dalam hitungan bulan.

Dormouse adalah omnivora insektivora. Porsi makanan harian (dewasa 15–35 gram):

  • 50–60 % serangga hidup: jangkrik kecil, ulat hongkong, mealworm, dubia roach, lalat tentara hitam.
  • 30–40 % buah segar: apel, pear, berry, anggur, pepaya, mangga (potong kecil).
  • 10 % protein nabati & kacang: biji bunga matahari, walnut, hazelnut, bee pollen.
  • Suplemen: kalsium + vitamin D3 2–3× seminggu.

Dilarang keras: memberikan makanan manis buatan, roti, keju, cokelat, alpukat, bawang.

4. Perawatan Kesehatan & Tanda Bahaya (khusus spesies subtropis)

Perawatan kesehatan meliputi penimbangan mingguan, pemeriksaan bulu dan mata setiap hari, serta grooming alami (mereka sangat bersih sendiri). African dormouse tidak hibernasi panjang, tetapi bisa mengalami torpor ringan saat suhu turun di bawah 18 °C oleh karena itu jaga suhu tetap hangat. Segera hubungi dokter hewan spesialis eksotik jika muncul tanda-tanda seperti lesu di malam hari, bulu rontok, nafsu makan turun drastis, atau berat badan turun lebih dari 10 %. Perawatan khusus hibernasi:

  • African dormouse biasanya hanya mengalami torpor ringan (tidur pendek), tidak perlu kulkas.
  • Japanese & edible dormouse wajib hibernasi 4–6 bulan pada suhu 4–8 °C.
  • Jika tidak mampu menyediakan hibernasi, jangan memelihara spesies tersebut.

Dormouse yang sehat selalu menunjukkan pola perilaku yang konsisten dan khas yaitu sangat aktif pada malam hari (berlarian, memanjat, dan mencari makan dari pukul 19.00–05.00), kemudian tidur nyenyak di sarang sepanjang siang tanpa terganggu. Tanda-tanda fisik yang menunjukkan kondisi prima adalah: bulu sangat halus dan mengkilap (terutama di sekitar punggung dan ekor), mata hitam besar yang jernih tanpa kotoran atau cairan, nafsu makan lahap (bisa menghabiskan 10–15 ekor jangkrik plus buah setiap malam), serta berat badan stabil (dewasa African dormouse 20–35 gram, ditimbang seminggu sekali pada waktu yang sama).

Ingat! segera bawa ke dokter hewan spesialis satwa eksotis (avian & exotic veterinarian) jika muncul salah satu atau lebih gejala berikut:

  • Lesu terus-menerus meski sudah malam hari (hanya duduk diam di sudut atau sarang, tidak bereaksi terhadap suara/gerakan).
  • Bulu rontok tidak normal, kusam, atau muncul area botak (bisa tanda parasit kutu/mite, defisiensi gizi, atau stres berat).
  • Mata berair, belekan, merah, atau sering menggosok-gosok mata dengan tangan depan (kemungkinan infeksi saluran pernapasan atas atau alergi).
  • Bersin berulang, nafas berbunyi “ngik-ngik”, atau keluar cairan dari hidung.
  • Penurunan berat badan drastis >10 % dalam 1 minggu meski pakan tetap tersedia (tanda paling serius, biasanya karena parasit dalam, infeksi bakteri, atau keracunan makanan).
  • Diare, tinja berbau sangat busuk, atau tinja menempel di bulu sekitar anus.
  • Kejang, kepala miring, atau kesulitan berjalan (indikasi keracunan atau gangguan saraf).

Pencegahan terbaik adalah menjaga kebersihan kandang, memberikan pakan segar & bervariasi, serta rutin menimbang berat badan. Dormouse yang sakit sering kali menurun kondisinya sangat cepat (dalam hitungan hari), sehingga deteksi dini dan penanganan segera oleh dokter berpengalaman adalah kunci utama kelangsungan hidupnya.

Memelihara dormouse memang memberikan kepuasan tersendiri karena tingkah lakunya yang menggemaskan dan aktif di malam hari. Namun, di balik kelucuan itu ada tanggung jawab besar, baik secara hukum maupun kesejahteraan hewan. Sebagian besar dormouse yang beredar di pasar gelap berasal dari penangkapan liar dan hanya bertahan hidup sebentar di tangan pemula.

Jika kalian belum memiliki izin resmi, fasilitas memadai, dan komitmen jangka panjang, cara terbaik mencintai dormouse adalah dengan mendukung lembaga konservasi, mengadopsi secara simbolis, menonton dokumenter, atau sekadar mengagumi foto dan video mereka. Biarkan dormouse tetap hidup bebas dan bahagia di habitat aslinya, itu adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus dan nyata tulus yang bisa kita berikan.